SUBULUSSALAM, Aceh | InfoGloball.com – Kota Subulussalam tengah menghadapi masa sulit yang menguji keteguhan dalam langkah pembangunan. Terbatasnya alokasi anggaran membuat hampir seluruh instansi pemerintahan kesulitan menjalankan tugas secara maksimal, membuat visi misi yang digariskan Walikota M Rasyid terancam tidak terwujud. Namun, M Rasyid tetap berjuang melawan kondisi, walau terlihat kesehatannya tidak begitu fit. Tidak hanya di provinsi bahkan sampai ke tingkat pusat, ia terus menjalin komunikasi erat dengan berbagai kementerian untuk mendapatkan petunjuk dan arahan guna menyelesaikan permasalahan yang dihadapi daerah ini.
Melihat kondisi yang memprihatinkan ini, Tim Media melakukan pantauan mendalam terhadap perkembangan kota ini, merasa perlu menyampaikan masukan sebagai bentuk partisipasi dalam upaya membangun daerah yang lebih baik.
“Kita melihat dengan jelas bahwa akar permasalahan yang dihadapi Subulussalam saat ini tidak hanya terletak pada terbatasnya anggaran, melainkan juga akumulasi hutang dan tekanan fiskal yang membuat banyak program pembangunan terhenti di tengah jalan,” ujar perwakilan Tim InfoGloball dalam analisis yang disusun secara cermat. “Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan daerah membuat berbagai tanggapan negatif muncul ke permukaan – hal yang wajar, namun perlu segera diatasi dengan langkah yang terstruktur.”
Menurut analisis yang dilakukan, pembenahan sistem harus dimulai fokus pada kebijakan fiskal yang tepat guna meningkatkan pendapatan daerah, sekaligus mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang ada.
Penempatan ASN yang Tepat sebagai Fondasi Perubahan
Salah satu langkah awal yang dianggap krusial adalah penempatan Aparatur Sipil Negara (ASN) sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. “Banyaknya sumber daya manusia yang tidak ditempatkan pada posisi yang tepat menjadi salah satu faktor yang membuat efisiensi kerja terganggu,” jelas tim analis InfoGloball. “Ketika seorang ASN bekerja sesuai dengan bidang keahliannya, produktivitas akan meningkat secara alami, dan penggunaan anggaran dapat lebih terkontrol.”
Pemetaan Aset dan Potensi sebagai Langkah Strategis
Tak kalah pentingnya adalah melakukan pemetaan menyeluruh terhadap seluruh potensi dan aset yang dimiliki Pemerintah Kota. Langkah ini dapat dilakukan melalui beberapa tahapan yang terstruktur:
Pertama, melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap seluruh aset kota – mulai dari tanah, bangunan, kendaraan, fasilitas umum, hingga fasilitas sosial. Penggunaan teknologi Sistem Informasi Geografis (GIS) diharapkan dapat memberikan gambaran spasial yang akurat, sehingga dapat dengan mudah mengidentifikasi aset yang sedang mangkrak atau belum dimanfaatkan secara optimal. “Banyak aset publik yang memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi pada pendapatan daerah, namun belum tereksplorasi dengan baik,” jelas perwakilan tim.
Kedua, melakukan pengembangan berbasis potensi lokal yang sudah ada. Hal ini mencakup hilirisasi produk pertanian dan perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, pengembangan destinasi wisata yang masih belum banyak dikenal, serta fasilitasi pemasaran bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui strategi digital marketing dan partisipasi dalam berbagai ajang pameran.
“Kota Subulussalam memiliki potensi alam dan sumber daya manusia yang tidak kalah dengan daerah lain di Aceh,” tambah perwakilan tim. “Yang dibutuhkan adalah sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait untuk menggerakkan roda pembangunan, bahkan dalam kondisi anggaran yang terbatas.”
Perjuangan Walikota M Rasyid yang tak kenal lelah menjadi contoh bahwa kemajuan tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran, namun juga oleh ketekunan dan kemampuan untuk melihat peluang di tengah kesulitan. Semoga masukan yang disampaikan dapat menjadi bagian dari solusi yang membawa perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat Subulussalam.
RED. TIM INFOGLOBALL

