Search
Close this search box.
Saturday, 5 April 2025

Wamen ESDM Dibantah, Syahdini Bongkar Fakta Penghapusan Barcode BBM di Aceh

Aceh Singkil, 19 Februari 2025 Infogloball.com– Ketua Muda Sedang Kabupaten Aceh Singkil, Syahdini, atau yang akrab disapa Deni, bantah pernyataan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, terkait sistem barcode dalam distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Aceh. Pernyataan Yuliot yang mempertanyakan efektivitas penghapusan sistem ini dinilai perlu ditinjau ulang dengan pendekatan yang lebih objektif dan berbasis kebutuhan daerah.

Kedaulatan dan Otonomi Aceh dalam Kebijakan Energi

Sebagai provinsi dengan status otonomi khusus, Aceh memiliki kewenangan lebih dalam menentukan kebijakan daerah, termasuk tata kelola distribusi energi. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, memiliki dasar yang kuat dalam mengusulkan penghapusan sistem barcode, yang dianggap kurang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Alih-alih menolak, pemerintah pusat seharusnya membuka ruang diskusi yang lebih luas guna mencari solusi terbaik bagi distribusi BBM di Aceh.

Evaluasi Efektivitas Sistem Barcode

Sistem barcode diterapkan dengan tujuan memastikan distribusi BBM bersubsidi tepat sasaran. Namun, laporan di lapangan menunjukkan bahwa sistem ini belum sepenuhnya efektif dan masih banyak mengalami kendala teknis. Deni menegaskan bahwa menghapus barcode bukan berarti menghilangkan pengawasan, tetapi membuka peluang untuk mekanisme lain yang lebih fleksibel dan sesuai dengan karakteristik masyarakat Aceh.

Dampak Sosial-Ekonomi bagi Masyarakat Aceh

Gubernur Aceh menekankan bahwa usulan penghapusan barcode bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sistem barcode kerap menjadi hambatan bagi kelompok masyarakat , seperti nelayan, petani, dan pelaku usaha kecil yang mengalami kesulitan dalam mengakses BBM bersubsidi. Dengan dihapusnya sistem ini, diharapkan akses terhadap BBM dapat lebih lancar tanpa kendala administratif yang memberatkan.

Alternatif Pengawasan BBM BersubsidiDeskripsi Gambar

Jika kekhawatiran utama Wakil Menteri ESDM adalah potensi distribusi yang tidak terkendali, maka diperlukan solusi alternatif. Beberapa mekanisme yang dapat diterapkan sebagai pengganti barcode antara lain:

– Pengawasan digital berbasis registrasi kendaraan, dengan sistem yang lebih inklusif dan mudah diakses masyarakat.
– Peningkatan kuota BBM berdasarkan kebutuhan riil, dengan melibatkan pemerintah daerah dalam penentuan alokasi BBM.
– Optimalisasi pengawasan di SPBU, melalui audit rutin dan pemantauan distribusi oleh lembaga independen.

Relevansi dengan Revisi Regulasi BBM Bersubsidi

Pernyataan Wamen ESDM bahwa regulasi BBM bersubsidi masih dalam tahap revisi, hal ini menunjukkan bahwa aturan ini belum final dan masih dapat disesuaikan. Oleh karena itu, aspirasi masyarakat Aceh, melalui Gubernur dan tokoh daerah, seharusnya dipertimbangkan dalam penyusunan kebijakan yang lebih efektif dan berkeadilan.

Kesimpulan
Penolakan terhadap sistem barcode dalam distribusi BBM bersubsidi di Aceh bukan sekadar kritik tanpa dasar, melainkan usulan berbasis realitas di lapangan. Sebagai daerah dengan otonomi khusus, Aceh memiliki hak untuk mengusulkan mekanisme distribusi BBM yang lebih sesuai dengan kondisi lokalnya. Pemerintah pusat perlu membuka ruang diskusi yang lebih luas untuk menemukan solusi terbaik yang tidak hanya efektif tetapi juga berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

(Red)