Subulussalam, 27 Agustus 2025 Infoglobal.com –
Di balik sejarah panjang seni bela diri Aceh, ada satu nama yang tak bisa dipisahkan: Asy’ari BM. Dari seorang pemuda sederhana, ia menjelma menjadi motor penggerak lahirnya Karate-Do di Tanah Rencong.
Jejak Awal Kehidupan
Asy’ari BM lahir di Kutacane pada tahun 1955. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai agama, adat, dan kedisiplinan hidup. Sejak kecil, ia dikenal tekun, suka belajar, serta memiliki ketertarikan pada dunia olahraga.
Pada masa remaja, ia merantau ke Medan, di mana ia pertama kali mengenal Karate-Do. Di kota inilah ia berjumpa dengan Tojo Simanjuntak, seorang tokoh Karate-Do yang juga menjadi gurunya. Pertemuan itu menjadi titik balik dalam hidupnya: dari seorang pemuda perantau, berubah menjadi seorang pejuang ilmu bela diri.
Kembali ke Aceh: 1975
Setelah bertahun-tahun berlatih, Asy’ari BM memutuskan pulang ke Aceh. Tahun 1975, ia tiba di Banda Aceh dengan tekad bulat: menyebarkan Karate-Do ke tanah kelahirannya. Asrama Singkil Banda Aceh menjadi saksi awal perjuangannya.
Dengan kesabaran luar biasa, ia melatih para pemuda Aceh. Tidak hanya mengajarkan teknik tendangan dan pukulan, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, sportivitas, serta filosofi Karate-Do: bahwa kekuatan sejati bukanlah untuk menyerang, melainkan untuk melindungi.
Lahirnya Dojo Pertama
Untuk memperkuat pembinaan, Asy’ari BM mendirikan dojo Karate-Do pertama di Aceh, yang kemudian menjadi pusat lahirnya atlet-atlet berbakat. Dari dojo sederhana itu, Karate-Do mulai menyebar ke berbagai daerah, terutama di wilayah Subulussalam dan Aceh Singkil.
Seiring waktu, dojo ini berkembang menjadi wadah organisasi Karate-Do lokal, yang kelak terhubung dengan perguruan tingkat provinsi dan nasional. Asy’ari BM dikenal bukan hanya sebagai pelatih, tetapi juga sebagai penggerak organisasi, yang berperan aktif memperjuangkan Karate-Do masuk ke berbagai kegiatan olahraga resmi.
Peran dalam Kejuaraan
Di bawah bimbingannya, banyak murid yang tampil di ajang kejuaraan daerah hingga nasional. Karate-Do dari Aceh mulai diperhitungkan, berkat dedikasi Asy’ari BM yang selalu mendorong murid-muridnya untuk berlatih keras namun tetap rendah hati.
Beberapa prestasi muridnya antara lain:
-Menjadi juara pada kejuaraan tingkat provinsi di Banda Aceh.
-Mengikuti turnamen Karate-Do di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
-Mewakili Aceh dalam ajang nasional pada era 1980-an dan 1990-an.
Murid-Murid yang Menjadi Tokoh
Dari bimbingan Asy’ari BM, lahirlah sejumlah tokoh yang berperan penting di Subulussalam–Singkil, di antaranya:
-Almarhum H. Makmur Syah Putra, mantan Bupati Singkil yang dikenal dekat dengan rakyat.
-Drs. Salmaza MAP, mantan Wakil Wali Kota Subulussalam yang berdedikasi tinggi.
-Hasby BM, mantan karyawan Inhutani IV yang mempraktikkan nilai-nilai Karate-Do dalam dunia kerja.
-Ansyari Idrus Sambo, mantan Ketua DPRK Subulussalam yang gigih memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Warisan Abadi
Bagi murid-muridnya, Asy’ari BM bukan sekadar guru Karate-Do, tetapi seorang mentor dan teladan hidup. Ia mengajarkan arti kesabaran, kerja keras, dan pantang menyerah. Filosofinya sederhana: Karate-Do adalah jalan hidup, bukan sekadar olahraga.
Kini, puluhan tahun kemudian, Karate-Do telah berkembang pesat di Aceh. Ribuan pemuda merasakan manfaatnya, baik sebagai seni bela diri maupun pembentuk karakter. Semua itu berawal dari keteguhan seorang anak Singkil bernama Asy’ari BM, sang pelopor Karate-Do di Tanah Rencong.
(Red)