Banda Aceh, 12 Februari 2025 Infogloball.com– Sebuah kejutan besar datang dari Gubernur Aceh yang baru dilantik, Muzakir Manaf, yang akrab disapa Mualem . Dalam pidato perdananya, Mualem langsung mengumumkan kebijakan yang mengejutkan publik: penghapusan sistem QR Code dalam pengisian BBM di SPBU seluruh Aceh.
Keputusan ini disambut dengan sorak-sorai oleh masyarakat yang selama ini merasa terbebani oleh sistem tersebut. Mualem menegaskan bahwa pemerintahannya akan selalu berpihak pada rakyat, bukan malah menyulitkan mereka.
“Kami ingin mensejahterakan rakyat, menyenangkan rakyat, bukan menyusahkan rakyat,” tegasnya dengan penuh semangat.
Sistem QR Code untuk pembelian BBM sebenarnya diterapkan dengan tujuan distribusi BBM bersubsidi secara lebih tepat sasaran. Namun, di lapangan, kebijakan ini justru menimbulkan banyak keluhan. Mulai dari kesulitan teknis, ketidaksiapan infrastruktur, hingga dampaknya bagi masyarakat kecil yang tidak memiliki akses mudah terhadap teknologi.
Banyak warga Aceh, khususnya nelayan dan petani di pedesaan, merasa sistem ini lebih membawa kesulitan dibandingkan manfaatnya. Mereka sering kesulitan mengakses BBM karena keterbatasan teknologi atau kendala administrasi. Dalam kondisi darurat, sistem ini juga dianggap kurang fleksibel.
Keputusan Berani, Harapan Baru
Langkah Mualem dalam menghapus sistem QR Code ini bukan sekadar kebijakan teknis, tetapi juga simbol keberpihakan terhadap masyarakat kecil. Ini adalah langkah awal dari janjinya untuk menjadikan pemerintahan Aceh lebih pro-rakyat.
Di sisi lain, Mualem juga menegaskan bahwa dirinya tetap akan membangun hubungan baik dengan pemerintah pusat demi masa depan Aceh yang lebih cerah. Keputusan ini tentu memerlukan koordinasi dengan berbagai pihak, terutama dalam memastikan bahwa penghapusan sistem QR Code tidak mengganggu distribusi BBM yang adil di Aceh.
Respon Masyarakat: Antara Optimisme dan Tantangan
Kebijakan ini langsung menuai beragam respons dari masyarakat. Sebagian besar warga menyambutnya dengan penuh kegembiraan.
“Kadang mau beli BBM saja harus ribet karena masalah teknis,” ujar Zulkifli, seorang nelayan di Aceh Besar.
Namun, ada juga pihak yang mempertimbangkan bagaimana pemerintah Aceh akan memastikan BBM tetap didistribusikan dengan adil tanpa ribet.
Para pengamat kebijakan energi menilai bahwa keputusan ini perlu diimbangi dengan mekanisme pengawasan distribusi BBM yang ketat, agar subsidi benar-benar sampai ke masyarakat yang berhak.
Masa Depan Aceh di Tangan Mualem
Dengan kebijakan pertamanya yang berani, Mualem menunjukkan bahwa dirinya siap membawa perubahan besar bagi Aceh. Ke depan, tantangannya tentu masih banyak, namun langkah awal ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintahan baru di Aceh akan lebih responsif terhadap kebutuhan rakyat.
Kini, masyarakat Aceh menunggu gebrakan berikutnya dari Mualem. Apakah janji-janji lainnya akan terealisasi dengan cepat? Satu hal yang pasti, rakyat Aceh berharap Mualem benar-benar menjadi pemimpin yang membawa kesejahteraan, bukan sekadar janji di atas podium.
(Red)

