Subulussalam, 26 Juli 2025 Infogloball.com– Sebanyak 800 ton beras impor asal Thailand, Vietnam, dan Pakistan mengendap di Gudang BULOG Subulussalam, yang menimbulkan kekhawatiran publik atas kelambanan distribusi pangan yang menyasar masyarakat di wilayah Subulussalam dan Aceh Singkil.
Beras tersebut seharusnya segera disalurkan, dengan rincian 190 ton untuk Kota Subulussalam dan 250 ton untuk Kabupaten Aceh Singkil. Namun hingga kini, tumpukan beras itu masih tersimpan, menunggu proses perawatan teknis yang disebut sebagai alasan utama keterlambatan.
Kepala Gudang BULOG Subulussalam, Rangga, menjelaskan bahwa penyaluran tertunda karena beras harus melewati proses perawatan terlebih dahulu. “Beras sudah lama mengendap makanya kami menyemprotkan zat kimia berbentuk gas untuk mengendalikan hama seperti kutu beras dan serangga lainnya. Ini prosedur standar untuk memastikan kualitas beras tetap baik selama penyimpanan,” ujar Rangga, Sabtu (26/7).
Namun, pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari berbagai pihak, salah satunya dari Ketua Ormas Perkumpulan Pedang Keadilan Perjuangan (P-PKP) Subulussalam, Putra Nasrullah. Ia menilai keterlambatan ini sebagai bentuk kelalaian BULOG dalam mengelola stok pangan yang sangat penting bagi masyarakat.
“Beras sudah mengendap di gudang selama enam bulan, sementara idealnya tidak lebih dari empat bulan. Hal ini bisa berdampak pada kualitas dan rasa beras, bahkan menurunkan nilai gizi. Ini bukan sekadar soal teknis, tapi soal tanggung jawab kemanusiaan,” tegas Putra.
Lebih lanjut, ia mendesak evaluasi menyeluruh terhadap kinerja BULOG Subulussalam. “Kami ingin ada sistem yang lebih cepat, efisien, dan berpihak pada rakyat. Karena ini soal makanan pokok, dan banyak keluarga miskin yang menggantungkan hidup pada bantuan beras pemerintah,” tambahnya.
Kisah tumpukan beras yang menanti nasib di gudang menjadi simbol ironi: di satu sisi, pemerintah mengimpor beras dari luar negeri dalam jumlah besar demi ketahanan pangan; di sisi lain, distribusinya tersendat di tingkat lokal, membuat masyarakat penerima manfaat harus menunggu lebih lama dari seharusnya.
Saat ini, publik berharap BULOG segera mempercepat penyaluran beras yang telah tertahan tersebut, serta melakukan perbaikan sistem distribusi agar kejadian serupa tak terulang. Sebab, lebih dari sekadar logistik, ini adalah tentang menjaga kepercayaan dan memberi harapan bagi ribuan warga yang tengah berjuang dalam kondisi ekonomi sulit.
(Red)